• DailyBytes

Unicorn ke Sembilan, Xendit

Xendit, aplikasi infrastruktur pembayaran digital mengumpulkan US$150 juta dalam pendanaan Seri C, meningkatkan valuasinya menjadi US$1 miliar.


Xendit
Xendit, Source: JPNN

Xendit, perusahaan startup asal Indonesia yang dikenal dengan infrastruktur pembayaran digitalnya, mengumumkan pada Selasa 14 Agustus 2021 bahwa mereka telah mengumpulkan US$150 juta dalam pendanaan Seri C, meningkatkan valuasi perusahaan menjadi US$1 miliar dan resmi menjadi unicorn.


The detail:

Putaran Seri C ini dipimpin oleh Tiger Global Management, dengan partisipasi investor yang diinvestasikan kembali Accel, Amasia dan Goat Capital, firma ventura yang didirikan bersama oleh mantan mitra Y Combinator Justin Kan (pada tahun 2015, Xendit menjadi startup Indonesia pertama yang berpartisipasi dalam program. akselerator).


Accel memimpin pendanaan Seri B Xendit senilai US$64,6 juta, yang diumumkan enam bulan lalu. Putaran baru ini membawa total pendanaannya sejauh ini menjadi US$238 juta. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2015 oleh chief executive officer Moses Lu dan chief operating officer Tessa Wijaya. Pada akhir tahun lalu, Xendit berekspansi ke Filipina, dan sekarang menjadi salah satu pemain dengan bayaran terbesar di negara tersebut.


Further:

Tessa Wijaya mengatakan bahwa Xendit telah mengalami peningkatan total volume pembayaran lebih dari 200% YoY, dan sekarang memiliki total volume pembayaran yang diproses (TPV) sebesar US$9 miliar per tahun. Salah satu segmen terbesar perusahaan adalah UMKM, dimana pada Agustus tahun ini, 10.000 UMKM terdaftar di platform perusahaan. Selain UMKM, Xendit juga bekerja sama dengan pemain teknologi terbesar di kawasan ASEAN, seperti Traveloka, Wise, Wish, dan Grab.


Company product:

Solusi Xendit memungkinkan bisnis menerima pembayaran dari berbagai metode ini melalui tiga opsi integrasi. Ini termasuk URL langsung yang dapat dikirim penjual kepada pelanggan untuk pembayaran; pembayaran web dan seluler yang bekerja dengan plugin platform e-niaga, dan API.


Selain dikenal sebagai penyedia infrastruktur pembayaran, yang menggambarkan dirinya sebagai “Alternatif pengembangan Stripe untuk Indonesia dan Asia Tenggara” di situsnya, Xendit juga menggarap layanan lain. Seperti yang dilakukan Xendit ke pasar baru, seperti Malaysia dan Vietnam, itu akan bergantung pada pemecahan masalah yang unik untuk setiap pasar. Misalnya, Wijaya mengatakan pencairan dana, termasuk pengembalian dana pasar, sulit di Indonesia, sehingga Xendit fokus untuk memperbaikinya. Di Filipina, di sisi lain, “masalah sebenarnya adalah menerima uang,” sehingga Xendit mengembangkan debit langsung dengan Grab.


Key Takeaways: Dengan bertambahnya satu unicorn lagi, memperkokoh posisi Indonesia sebagi pencetak unicorn terbanyak di Asia Tenggara. Ditambah lagi kita juga pemain terbesar ekonomi digital di Asia Tenggara.