• DailyBytes

SoftBank Berencana untuk "Menunggu dan Melihat" Perusahaan Teknologi di China

Perombakan peraturan teknologi di China menyebabkan SoftBank untuk berhenti berinvestasi ke perusahaan China sejenak.

Peruban regulasi teknologi yang sangat besar tahun ini di China menyebabkan perusahaan-perusahaan teknologi domestik mereka harus rela untuk merugi, didenda, atau diselidiki yang menyebabkan turunnya nilai saham perusahaan tersebut. Dari awal tahun 2021 hingga kini, 3 perusahaan teknologi terbesar di bidangnya Tencent, Alibaba, dan Didi harus kehilangan 20% dari nilai perusahaan mereka karena regulasi tersebut. Hal ini juga sangat berdampak besar untuk investor salah satunya SoftBank.

SoftBank dan Masayoshi
Foto: SoftBank dan Masayoshi Son, Source: Bangkok Post

Penurunan laba bersih

dialami oleh Softbank, grup investasi dari Jepang, baru saja merilis hasil kinerja keuangannya untuk kuartal kedua tahun 2021. Portofolio investasi perusahaan teknologi China tersebut menyumbang 23% dari keseluruhan investasi Vision Fund SoftBank sejauh ini. Mengutip AFP, laba bersih turun 39% dalam kuartal ini menjadi 761,5 miliar yen (Rp 99 triliun). Pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan membukukan laba hingga 1,26 triliun yen.


Kontributor laba:

  • Raksasa ride-sharing China Didi membuat sebagian besar keuntungan dari investasi perusahaan, meskipun harga sahamnya turun setelah IPO

  • Aplikasi pengiriman makanan AS DoorDash.

Bahkan keuntungan tersebut dapat mengimbangi beberapa kerugian investasi di raksasa e-commerce Korea Selatan, Coupang dan pasar mobil bekas Jerman, Auto1.


"Kami ingin berhati-hati"

kata CEO SoftBank Masayoshi Son. Perusahaan teknologi tempat SoftBank berinvestasi yang dikenai sanksi oleh China adalah Alibaba Group (e-commerce), dan DiDi Chuxing (ride-hailing). Alasan sanksi adalah perusahaan dianggap menggunakan posisi dominan di pasar untuk tujuan monopoli hingga kebijakan perusahaan dalam mengelola data pengguna di China. Karena tindakan ini, SoftBank memutuskan untuk menghentikan sementara investasi di China sambil menunggu tindakan regulasi terhadap perusahaan teknologi negara tersebut.


"Sampai situasinya lebih jelas, kami ingin menunggu dulu (wait and see)," ujar Masayoshi Son.