• dailybytes1

Sektor Properti Indonesia Mulai Pulih

Perusahaan properti Puradelta Lestari dan Lippo Cikarang cetak laba di Q3/2021, sedangkan Lippo Karawaci masih merugi.


Property
Property, Source: Asia Property HQ

PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS):

Emiten properti Sinarmas Group yang mengelola Kota Deltamas Cikarang ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp 635 miliar dalam 9 bulan tahun ini atau per September 2021, tumbuh 109,8% YoY dengan margin laba bersih sebesar 48,5% meningkat dari 46,2%.


Peningkatan laba ini seiring dengan peningkatan pendapatan perusahaan sebesar Rp. 1,31 triliun, pencapaian ini setara dengan dua kali lipat pendapatan operasional semester I-2020 sebesar Rp. 655 miliar. Kontributor terbesar pendapatan perseroan adalah segmen residensial yang menyumbang 8,4%. Diikuti oleh segmen komersial, hotel, dan sewa dengan pendapatan usaha secara keseluruhan masing-masing sebesar 3,0%, 0,6%, dan 0,4%.


PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK):

Lippo Cikarang yang merupakan anak usaha Lippo Karawaci mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 43,78% YoY dari Rp. 612,42 menjadi Rp 344,27 miliar dari laba bersih pada periode yang sama. Penurunan laba ini diikuti oleh penurunan pendapatan perseroan menjadi Rp. 1,18 triliun dari sebelumnya Rp. 1,59 triliun pada akhir kuartal ketiga tahun lalu.


Hal ini membuat nilai laba bersih per saham turun menjadi Rp 128 dari Rp 229, namun beban pokok pendapatan perusahaan turun menjadi Rp 681,39 miliar dari sebelumnya Rp 954,16 miliar dan beban usaha perseroan juga turun menjadi Rp 199,24 miliar dari sebelumnya Rp 236,47 miliar.


PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR):

Berbeda dengan nasib anak perusahaanya, Lippo Karawaci harus membukukan rugi bersih sebesar Rp 573,29 miliar selama 9 bulan pertama tahun ini. Namun, nilai kerugian ini membaik dari periode yang sama tahun sebelumnya yang merugi hingga Rp 2,34 triliun. Karena hal ini, nilai kerugi per saham pun ikut berkurang dari Rp. 33,16 /saham menjadi Rp. 8.10/saham.Lalu, pendapatan perseroan juga meningkat dari Rp 7,49 triliun menjadi Rp 10,75 triliun atau tumbuh 44,20% year on year (YoY).