• DailyBytes

SEC Bertikai dengan Coinbase

SEC ingin meregulasi fitu baru yang akan dikeluarkan oleh Coinbase, Coinbase Lend, tetapi perusahaan tidak setuju.


Coinbase VS SEC
Coinbase VS SEC, Source: BitcoinNews

Penurunan harga bitcoin tidak hanya karena pembelian atau penjualan besar-besaran, berita buruk juga mempengaruhi pasar yang sangat fluktuatif ini. Berita besar terbaru untuk menggerakkan harga Bitcoin adalah bahwa Komisi Sekuritas dan Pertukaran AS (SEC) akan mengatur produk terbaru Coinbase saat diluncurkan.


What is that?

Coinbase, platform perdagangan crypto dari Amerika Serikat, ingin membuat Conbase Lend. Rencananya, Coinbase Lend akan memiliki fitur bagi pengguna untuk meminjamkan aset kripto, kemudian perusahaan akan meminjamkan aset tersebut ke pengguna lainnya. Pemberi pinjaman akan mendapatkan tingkat bunga sebesar 4% APY bagi pengguna yang berkontribusi memberikan pinjaman.


Dengan rencana produk baru ini, Coinbase ingin bersaing dengan produk keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang populer, seperti Compound dan Aave. Perusahaan ingin mengoperasikan kumpulan pinjaman yang berfokus pada USD Coin (USDC), stablecoin yang dipatok ke USD.


Why SEC want to regulate it?

Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) yang dipimpin oleh Gary Gensler mencoba mengatur skema investasi cryptocurrency. SEC telah memberi tahu mereka bahwa mereka ingin mengatur aset digital karena "keamanannya tergantung pada fakta dan keadaan." Aset keuangan yang diperdagangkan dengan aman, seperti saham dan obligasi, diatur oleh beberapa undang-undang yang dirancang untuk mencegah penipuan dan melindungi investor. Oleh karena itu SEC juga ingin mengatur aset digital ini. Dan SEC melihat produk baru Coinbase tidak memenuhi definisi keamanan mereka.


Coinbase is mad.

Komisi Sekuritas dan Pertukaran AS (SEC) mengeluarkan pemberitahuan atau pemberitahuan resmi dari SEC bahwa agensi tersebut berencana untuk mengambil tindakan penegakan hukum terhadap Coinbase. Coinbase marah dan telah memilih untuk meluncurkan kampanye PR melawan SEC. Argumen utama Brian Armstrong, CEO Coinbase, adalah bahwa perusahaan lain telah menawarkan fitur serupa, jadi tidak ada alasan mengapa beberapa perusahaan dapat menawarkan produk seperti itu dan bukan Coinbase. Ini belum berakhir tetapi Coinbase mengatakan akan menunda peluncuran fitur perusahaan hingga setidaknya Oktober 2021.


Key Takeaways:

Crypto adalah aset panas yang diburu banyak orang, tetapi volatilitas dan keamanannya menjadi perhatian utama banyak pengguna dan institusi besar yang ingin mengatur aset digital ini. Tak hanya di Amerika Serikat, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga juga ingin Indonesia mengatur aset digital ini. Ini adalah masalah terbesarnya. Salah satu alasan memegang aset kripto adalah karena mereka sangat fleksibel dan tidak diatur oleh badan yang membuatnya mudah untuk diperdagangkan, tetapi jika regulasi akhirnya terjadi, bagaimana reaksi bitcoin?