• DailyBytes

Ramayana Tutup 19 Gerai Dari Tahun 2020

Ramayana, perusahaan ritel asal Indonesia, sudah menutup total 19 gerai dari tahun 2020 hingga semester I-2021.


Ramayana
Ramayana, Source: Sindonews

Sudah ada beberapa industri yang mulai pulih dari pandemi COVID-19, namun tidak dengan industri ritel, dan perusahaan Ramayana adalah salah satu dari banyak perusahaan ritel yang masih berjuang. Pada 2020, Ramayana harus menutup hingga 13 toko. Ditambah enam gerai yang harus berhenti hingga paruh pertama tahun 2021.


The Detail:

Dengan total 19 gerai yang ditutup, kini Ramayana memiliki total 102 gerai, ditambah empat gerai yang telah dibuka. Sekretaris Perusahaan RALS, Setyadi Surya mengatakan alasan penutupan gerai tersebut karena adanya pandemi Covid-19 yang memicu pembatasan operasional pusat perbelanjaan. Penyebab lainnya adalah menurunnya daya beli masyarakat akibat turunnya banyak sektor industri yang menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran.


Namun selain gugrunya 19 gerai Ramayana ada kabar gembira. Dari 19 gerai yang ditutup, delapan di antaranya merupakan toko dan gedung milik Ramayana, sehingga perseroan bisa buka kembali saat kondisi mulai membaik. Dan perusahaan tidak berencana untuk menutup lebih banyak gerai di sisa tahun ini.


What's next?

Ramayana Lestari Sentosa membukukan hasil yang positif di semester I-2021:

  • Kenaikan pendapatan bersih 16,5% (yoy) menjadi Rp 1,71 triliun pada semester I 2021.

  • Laba bersih perseroan melonjak 2.470,7% (yoy) menjadi Rp 137,82 miliar.

Dengan hasil positif mulai awal 2021, perseroan kemudian menargetkan pertumbuhan sebesar 15% pada semester II 2021. Namun memburuknya pandemi di Indonesia memaksa perusahaan merevisi target pertumbuhan menjadi 10%-12% pada tahun ini. Perseroan juga menargetkan belanja modal sebesar Rp 32,5 miliar karena perseroan tidak mengeluarkan biaya besar.


Perusahaan akan menerapkan beberapa strategi untuk sisa semester ini, yaitu mengoptimalkan penjualan online, mempertahankan keberadaan gerai, menata kembali penggunaan ruang, remerchandising produk, melanjutkan konsep mal gaya hidup, dan mengendalikan biaya secara ketat.