• DailyBytes

Startup Edtech Microverse Mendapatkan Pendanaan Series A sebesar $12.5 juta

Microverse memiliki misi untuk membantu mengajarkan coding untuk murid-murid di seluruh dunia melalui sekolah daring yang mereka miliki.

Pandemi membantu mempercepat akselerasi teknologi diberbagai bidang, dan pendidikan salah satu bidang tercepat untuk mengadopsinya.

Coding
Foto: Coding

Microverse adalah startup yang bergerak dibidang pendidikan, khususnya mengajarkan para penggunanya coding. Model bisnis yang dilakukan oleh Microverse adalah pembagian pendapatan, jadi para siswanya tidak perlu membayar sampai mereka mendapatkan pekerjaan mereka, Menarik.


Model bisnis seperti ini sudah diterapkan oleh beberapa startup edtech coding di Indonesia, contohnya Hacktiv8 dan Arkadmey. Yang masing-masing memiliki ketentuan pembagian pendapatannya sendiri.


Dikutip dari TechCrunh, Microverse telah mendapatkan pendanaan Series A sebesar $12.5 juta dari Northzone dengan partisipasi tambahan dari General Catalyst, All Iron Ventures, dan sejumlah angel investor. Ini menjadikan pendanaan kedua yang Microverse terima, pendaan pertama mereka berasal dari General Catalyst dan Y Combinator, yang sekarang membuat total pendaan yang mereka dapatkan hampir menyentuh $16 juta.


CEO Microverse Ariel Camus

dan timnya telah meluluskan sekitar 300 siswa yang telah bekerja di berbagai posisi dan di berbagai perusahaan teknologi terkemuka, di antaranya Microsoft, VMWare, dan Huawei. 95% lulusan Microverse mendapatlan pekerjaan enam bulan setelah mereka menyelesaikan pendidikan mereka sejauh ini. Angka ini menunjukan Microverse melampaui salah satu masalah besar yang dimiliki sekolah berbasis perjanjian pembagian pendapatan di Amerika Serikat – membuat lulusan dipekerjakan.


Microverse memiliki rencana untuk meluncurkan program partnership - yang akan di realisasikan dalam waktu dekat - hal ini akan mebuka peluang 5x lebih besar untuk pasar mereka (strategi yang bisa ditiru oleh edtech di Inonesia, kata Camus kepada TechCrunch. Camus juga menambahkan Microverse juga mengincar 10,000 murid per tahunnya jika program tersebut terrealisasikan.


Hanya 5% dari lulusan Microverse yang tidak tidak mendapatkan pekerjaan enam bulan setelah lulus adalah hal yang fantastis. Mereka mendapatkan jumlah ini dengan penyaringan yang ketat. Hal ini yang dapat ditiru oleh banyak startup edtech di Inonesia.