• DailyBytes

Laba Unilever Indonesia dan Plc Sama-Sama Anjlok

Bisnis Uniliver baik di Indonesia dan di Inggris sama sam mencatatkan laba, tetapi tergerus inflasi dan pandemi.

Unilever Indonesia

Salah satu Perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) multi-nasional terbesar di Indonesia, Unilever, mengalami dampak yang cukup besar yaitu penurunan harga saham, penurunan laba, penurunan penjualan, dan penurunan ekspor.

Gedung Unilever
Foto: Gedung Unilever, Source: Ayosemarang

Laporan Semester I-2021

  • Laba bersih: Rp 3,05 triliun (Sem1 2020: Rp 3,62 triliun)

  • Pendapatan: Rp 20,18 triliunr (Sem1 2020: Rp 21,77 triliun)

  • Penjualan dalam negeri: Rp 19,29 triliun (Sem1 2020: Rp 20,77 triliun)

  • Ekspor: Rp 888,11 miliar (Sem1 2020: Rp 1 triliun)

  • Laba bruto: Rp 10,25 triliun (Sem1 2020: Rp 11,18 triliun)

  • Harga pokok penjualan: Rp 9,93 triliun (Sem1 2020: Rp 10,59 triliun)

  • Beban pemasaran: Rp 4,22 triliun (Sem1 2020: Rp 4,29 triliun)

  • Jumlah aset tercatat: Rp 20,27 triliun (Des 2020: Rp 20,53 triliun)

  • Kas: Rp 526,36 miliar (Des 2020: Rp 844,08 miliar)

  • Kewajiban: Rp 16,26 triliun (Des 2020: Rp 15,59 triliun)

  • Ekuitas: Rp 4,01 triliun (Des 2020: Rp 4,94 triliun)

Pasar FMCG belum pulih

kata Ira Noviarti, Presiden Direktur Unilever Indonesia. Hal ini menyebabkan konsumen berhati-hati dalam memilih pola konsumsi dalam beberapa kategori dasar. Oleh karena itu, perusahaan memilih untuk fokus mengatasi tantangan tersebut dengan strategi yang menyeimbangkan keberlanjutan usaha jangka pendek dan jangka panjang.


"Kami mewujudkan lima strategi prioritas, mendorong pertumbuhan pasar melalui stimulasi konsumsi konsumen, memperluas dan memperkaya portofolio ke segmen nilai dan premium, memperkuat kepemimpinan dalam inovasi dan saluran masa depan, menerapkan E-Everything di semua lini termasuk penjualan, operasi, dan pemrosesan data, dan tetap menjadi yang terdepan dalam menerapkan bisnis yang berkelanjutan." ungkap Ira ke CNBC Indonesia.


Unilever Plc

Tidak lebih baik dari Unilever Indonesia, Unilever pusat pun mengalami penurunan laba dan harga saham dikarenakan adanya kenaikan harga karena pandemi COVID-19.


3,12 miliar euro

laba yang berhasil di peroleh perusahaan pada semester I-2021. Nilai tersebut turun 5% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya berdasarkan data resmi perusahaan yang dilansir AFP. Produk makanan, pembersih, dan kecantikan, juga produk lain seperti es krim Magnum, pembersih permukaan Cif, dan sabun Dove, mencatatkan pendapatan rata-rata 26 miliar euro atau setara Rp 442 triliun.


Inflasi, nilai tukar, dan COVID-19

sangat mempengaruhi perusahaan. Virus COVID-19 yang mengakibatkan adanya penguncian wilayah (lockdown) membuat para konsumen memperhatikan pola konsumsi mereka. Alhasil membuat pertumbuhan produk Unilever tersendat. Walaupun tahun lalu mengalami permintaan besar untuk pembersih tangan dan produk pembersih rumah tangga, tetap ini menjadi hal yang sulit untuk bangkit, kata manajemen Unilever. Selain tiga point di atas pnurunan laba Unilever juga terjadi karena kenaikan harga bahan baku yang memaksa Unilever untuk memangkas margin profit mereka dari 19,8 persen pada semester I-2020 menjadi 18,8 persen pada semester I-2021 .