• DailyBytes

Indonesia Mengekspor Bahan Baku Baterai Walau Mempunyai Pabrik Sendiri

Indonesia memiliki enam proyek untuk membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL). Yang akan menghasilkan bahan baku dasar pembuatan baterai kendaraan listrik.

Masih ingatkah Anda dengan proyek pembangunan pabrik baterai mobil listrik Tesla di Indonesia beberapa waktu yang lalu? Walaupun Tesla tidak jadi membuat pabriknya di Indonesia, kita memiliki fasilitas pengolahan dan pemurnian pertama yaitu PT Halmahera Persada Lygend (HPL) yang terletak di Pulau Obi, Maluku Utara.

HPL
Foto: HPL, source: hplnikel

Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan

Hasil dari smelter ini adalah bahan baku pembuatan baterai kendaraan listrik, seperti Mix Sulphide Precipitate (MSP) atau Mix Hydroxide Precipitate (MHP). Lebih detailnya adalah mineral bernama NiSO4 dan CoSO4 . Namun sayangnya, produk dari smelter ini tidak dapat diserap di dalam negeri karena belum ada pabrik yang dapat mengolah mineral tersebut.


“Hampir semua produk diekspor, hanya sebagian kecil yang diolah lebih lanjut di dalam negeri,” Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Sugeng Mujiyanto mengatakan kepada CNBC Indonesia. Ia juga menyayangkan produksi smelter ini masih diekspor. Menurut dia, produk ini harus diserap di dalam negeri, sehingga bisa berkembang menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi lagi. Namun, menurut dia, kewenangan itu milik Kementerian Perindustrian.


The number

Target produksi dari HPAL di Pulau Obi:

  • 246 ribu ton per tahun NiSO4

  • 32 ribu ton per tahun CoSO4

  • Bijih nikel sekitar 8,3 juta ton per tahun.

Smelter HPAL ini diperkirakan memakan biaya mencapai lebih dari US$ 1 miliar.

Diperkirakan investasi untuk enam proyek tersebut mencapai US$ 6,25 miliar.

Untuk kelima proyek smelter lainnya, ditargetkan beroperasi paling lambat pada 2023.


Semoga tidak hanya proyek HPAL tetapi proyek pembangunan perusahaan yang bisa mengolah bahan mineral seperti NiSO4 dan CoSO4, agar Indonesia bisa menjadi negara produsen untuk para negara besar lainnya.