• DailyBytes

Evergrande Menuju Kebangkrutan

Perusahaan properti dari Tirai Bambu, Evergrande Group, terancam bangkrut dan memicu dampak buruk bagi perekonomian dunia.


China Evergrande
China Evergrande, Source: Genesis Block

Raksasa properti China, China Evergrande Group terancam bangkrut setelah perusahaannya terindikasi wanprestasi atas bunga pinjaman yang jatuh tempo pada 20 September 2021. Hal itu terjadi karena perusahaan tak mampu menjual aset propertinya untuk melunasi utang sekitar US$ 300 miliar atau Rp 4.275 triliun.


Why?

China Evergrande terlalu banyak meminjam uang, bahkan perusahaan tersebut disebut-sebut sebagai perusahaan properti dengan utang terbanyak di dunia.


Selain itu tata kelola perusahaan yang buruk tidak membantu meningkatkan penjualan properti, Evergrande mengatakan penjualan properti terus memburuk secara signifikan pada September 2021.


Domino Effect?

Perusahaan real estate raksasa asal China ini tidak mampu membayar bunga pinjaman yang jatuh tempo pada 20 September. Oleh karena itu, Evergrande berdiskusi dengan bank tentang kemungkinan perpanjangan pembayaran dan meluncurkan beberapa pinjaman. Regulator telah memperingatkan risiko yang lebih luas terhadap sistem keuangan negara jika kewajiban perusahaan senilai US$305 miliar tidak terkendali.


Does this affect Indonesia?

Sektor properti China merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi China, menyumbang 29% dari pertumbuhan ekonomi China. Jika masalah default dari raksasa properti itu tetap tidak terselesaikan, maka hal ini dapat berdampak pada perusahaan properti lain di China dan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi China yang saat ini masih menjalani proses pemulihan akibat pandemi virus corona (Covid-19).


Jika hal ini terjadi, maka China yang dianggap sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, juga akan mempengaruhi perekonomian global, terutama di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Meski dampaknya tidak langsung, jika ekonomi China mengalami krisis akibat masalah default ini, maka masalah ini juga akan berdampak sistemik pada perekonomian Indonesia, seperti Amerika Serikat (AS).