• DailyBytes

Didi Chuxing, Drama StartUp China yang IPO di Amerika

Didi Chixung, startup yang menyediakan layanan ride hailing seperti yang di tawarkan Gojek, melakukan IPO pada Kamis 30 Juni 2021 di bursa saham New York Stock Exchange (NYSE) di Amerika Serikat.

Pasca IPO saham $DIDI naik 1% saat penutupan dengan harga US$14.14. IPO ini terhitung berhasil karena mendapatkan respon yang lebih positif daripada IPO perusahaan Uber dan Lyft yang kurang lebih menawarkan layanan yang sama. Tetapi saat artikel ini dibuat tepatnya satu minggu setelah IPO sahamnya sudah turun 11.67% ke harga $12.49. Jadi apa yang membuat saham DIDI turun?

Logo Didi
Foto: Logo Didi, source: yahoo news singapore

Didi dikabarkan menyimpan data menyimpan data pelanggan dan data jalan raya China di Amerika Serikat

Ya! 3 hari setelah Didi melaksanakan IPO, ada tuduhan yang dilakukan kepada Didi dan ada oknum yang menyebarkan berita bohong yang berisi perusahaan mentransfer data selama proses IPO. Karena tuduhan ini pemerintah China tidak diam dan memerintahkan Otoritas Siber China untuk memeriksa Didi alhasil saham Didi turun hingga 5%.


Pemeriksaan yang dilakukan tanggal 2 Juli tersebut mebuahkan hasil...

yang kurang enak didengar oleh pihak Didi. Otoritas Siber China menemukan bahwa perusahaan telah mengumpulkan data pribadi pengguna secara ilegal dan meminta aplikasi Didi dikeluarkan sementara dari app store China pada hari Minggu 4 Juli 2021. Hal ini bukan kali pertama terjadi untuk perushaan China, penyidikan terkait penyalahgunaan data juga pernah menimpa Alibaba dan Meituan yang sama sama melaitai di bursa saham luar negeri.


Tidak hanya sampai situ, hal buruk yang menimpa Didi berlanjut

pengguna baru Alipay dan WeChat tidak dapat menggunakan layanan Didi karena dampak dari dihapusnya aplikasi Didi dari app store China, tetapi berita baiknna para pengguna lama masih bisa menggunakan aplikasi tersebut seperti biasa.


Banyaknya kasus perusahaan teknologi China ini karena diperketatnya peraturan yang dibuat oleh pemerintah China berkaitan dengan perilaku anti persaingan dan keamanan data. Korban pertama dari peraturan ini adalah Ant Grup induk usaha Alibaba yang tidak jadi melantai di bursa saham karena perusahaan diberitakan menggunakan kekuasaannya untuk mendorong anak muda dan kaum miskin untuk berhutang lewat aplikasinya ditambah lagi dengan pidato Jack Ma yang bernada menyerang pemerintah. Setelah kejadian ini pemerintah China makin memperketat regulasinya untuk perushaan teknologi dalam negeri mereka.