• DailyBytes

Dampak UU Privasi Data China Terhadap Bisnis Asing

Undang-Undang Perlindungan Informasi Pribadi China (PIPL) telah berlaku, menetapkan aturan dasar tentang bagaimana data dikumpulkan, digunakan, dan disimpan.


Data Privacy
Data Privacy, Source: Cyberthreath.id

Hukum Perlindungan Informasi Pribadi China (PIPL) yang mengatur tentang bagaimana data dikumpulkan, digunakan, dan disimpan yang disahkan pada 20 Agustus yang lalu resmi berlaku pada tanggal 1 November. UU ini juga menguraikan persyaratan pemrosesan data untuk perusahaan yang berbasis di luar China.


How does it work?

Perusahaan luar negeri yang berada di China dan ingin melakukan perpindahan data informasi pribadi dari China ke luar negeri harus:

  • Mendapatkan sertifikasi perlindungan data dari lembaga profesional

  • Membentuk lembaga yang ditunjuk atau menunjuk perwakilan yang berbasis di China untuk bertanggung jawab atas hal-hal yang berkaitan dengan perlindungan data pribadi.

  • Melakukan "penilaian dampak perlindungan informasi pribadi", menurut Kantor Komisaris Data Privasi untuk Pribadi Hong Kong (PCPD)

  • Mendapatkan persetujuan terpisah dari individu terkait dengan transfer informasi pribadi mereka dan memenuhi salah satu dari beberapa persyaratan.

  • Menerapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan pihak asing lainnya yang terlibat dalam pemrosesan data mematuhi standar keamanan data yang ditetapkan oleh PIPL


Who got affected?

  • Perusahaan multinasional (MNC) yang memindahkan informasi pribadi dari China ke luar negeri.

  • PIPL berlaku untuk organisasi asing yang memproses data pribadi di luar negeri.


This may be related with:

  • Yahoo yang mengakhiri layanannya di China karena "lingkungan bisnis dan hukum yang semakin menantang." Padahal Yahoo telah beroperasi di China sejak akhir 1990-an.

  • Fortnite versi China, Fortress Night, akan mengakhiri layanannya pada 15 November nanti. Fortnite bekerjasama dengan Tencent untuk meluncurkan Fortress Night pada tahun 2018 lalu.

  • Perusahaan jaringan media sosial LinkedIn, milik Microsoft juga harus angkat kaki dari China, dengan mengatakan alasan yang sama seperti yang diutarakan oleh Yahoo.