• DailyBytes

Continuous vs Disruptive Innovation

Apakah Anda pernah menderngar Toyota way? Toyota way adalah filosofi manajemen yang diadopsi oleh perusahaan Toyota, filosofi ini berisi inovasi yang bekerlanjutan dan respek terhadap sesama, tetapi filosofi ini mulai banyak di tinggalkan karena sekarang muncul yang namanya Tesla Way.

Pada Juli tahun 2020 Tesla menjadi perusahaan manufactur mobil paling bernilai mengalahkan Toyota. Saat itu nilai valuasi perusahaan Tesla sebesar US$ 209.47 miliar (sekarang sudah menjadi US$ 650.82 M), nilai tersebut lebih besar $ 4 M dari nilai perusahaan Toyota. Hal tersebut bertolak belakang dengan data penjualan kedua perushaan tersebut dimana Toyota menjual 30x lebih banyak unit dan memiliki total pendapatan 10x lebih banyak daripada Tesla. Dengan caranya masing-masing kedua perusahaan tersebut menjadi yang terbaik di bidangnya tetapi apakah Toyota way masih bisa eksis di masa depan atau cara lama tersebut akan digeser oleh Tesla? Mari kita uraikan.

Tesla VS Toyota
Foto: Tesla vs Toyota, source: kasus

Sekilas Tentang Toyota way dan Tesla way

Toyota ways memiliki 14 prinsip yang dibagi kedalam 4 bagian besar yakni:

  • Alasan jangka panjang.

  • Siklus yang benar akan memberikan hasil yang benar.

  • Tingkatkan asosiasi dengan membangun asas kekerabat.

  • Mengatasi akar masalah secara terus-menerus mendorong pembelajaran yang benar.

Dua prinsip utama Toyota Way adalah peningkatan yang konsisten dan penghargaan terhadap individu. Prinsip peningkatan terus-menerus mencakup melewati tantangan, berinovasi tanpa henti, dan mengatasi sumber masalah atau masalah. Prinsip menghormati individu dibangun dengan cara menggabungkan antara membangun apresiasi dan kerjasama.


Itu cara Toyota bekerja 101, sekarang mari kita lihat sang penantang dari silicon valley. Tesla way sebetulnya belum memiliki arti secara resmi, tetapi menurut James Womack bapa dari gerakan Lean mengatakan "Tesla way itu adalah tentang bergerak cepat dan berharap kejeniusan dan adrenalin dapat mengimbangi kurangannya perencanaan dan stabilitas." Menurut Lou Shipley setidaknya ada 4 hal yang membentuk Tesla way:

  • Terus memberikan inovasi untuk produk yang dibuat.

  • Pahami kemauan pelanggan dan pahami buyer journey.

  • Memproduksi produk inovatif dan bernilai tambah.

  • Mengikuti trend.


Kedua filosofi ini sangatlah bertolak belakang, Toyota yang sangat mementingkan investasi waktu dan pemikiran mereka yang cermat di awal untuk memastikan mereka memiliki desain produk terbaik dan sistem produksi yang sempurna sebelum kemudian menjalankan proses produksi dan setelah produksi dimulai tidak boleh ada kesalahan "do it right the first time" jargon ini sangat populer di lini produksi Toyota. Sedangkan Tesla menjalankan proses produksinya seperti perusahaan silikon valley yang mengembangkan perangkat lunak "move fast, breaking things", "fail fast, learn fast", "launch early, iterate later." Itulah jargon-jargon yang mendikte perilaku karyawan Tesla yang akhirnya mempengaruhi proses produksi yang akhirnya memiliki banyak masalah. Toyota memproduksi 10 juta mobil setahun tanpa masalah, sedangkan Tesla yang hanya memproduksi 25 ribu kendaraan pada tahun 2017 memiliki lebih banyak masalah daripada Toyota.


Cara pandang sebuah masalah

Salah satu pakar Lean dari Lean Enterprise Institute, Tom Ehrenfeld mengatakan "Meskipun masalah mungkin kaya akan peluang belajar, masalah terbaik adalah masalah yang tidak pernah Anda miliki.", tetapi Elon Musk memiliki pandangan yang berbeda tentang masalah. Dia tidak melihat masalah dengan cara yang sama seperti Tom, ketika Elon gagal menunjukkan kekuatan kaca jendela Cybertruck yang dipraktekkan di acara demontrasi, pengamat dan media massa mengolok-olok Tesla , bagi mereka itu sebuah aib besar tetapi tidak bagi Elon, dia menganggap kritikan tersebut sebagai feeback agar dia bisa menyempurnakan jendela Cybertruck buatannya itu.


Man VS Machine

Tesla menjalankan pabriknya dengan fokus pada produksi kecerdas buatan dan mesin otomatis yang akan menghilangkan kesalahan yang disebabkan manusia dalam produksi. Tesla memprediksikan bahwa kapasitas produksinya akan meningkat dari level ribuan produk menjadi jutaan produk dalam waktu yang sangat singkat, ketika sudah memiliki sistem produksi yang ideal dengan mesin yang mendukung produksi bebas kesalahan dan tanpa perlu pelatihan tenaga kerja yang menyebabkan pemborosan waktu. Berbeda dengan Tesla yang melihat proses produksi sangat mekanistik, Toyota lebih menekankan peran manusia dalam proses produksi, "Para karyawan yang ada di lini produksi diharapkan berperan sebagai sumber pembelajaran dan perbaikan . Inovasi hanya dapat diotomatisasi setelah terbukti bekerja secara manual", kata Jeffry Liker, penulis buku the Toyota way.


The People

"Meskipun budaya bisnis Amerika menyukai tokoh heroik seperti yang dimainkan dengan sempurna oleh Elon Musk, sebagian besar perusahaan Lean yang unggul berkembang karena mereka dipimpin oleh individu rendah hati yang melihat pekerjaan mereka sebagai penjaga kestabilan dan meningkatkan elemen inti bisnis, yaitu orang, proses, dan tujuan." kata Tom Ehrenfeld dari Lean Enterprise Institute. Menurut Tom masalah utama Tesla adalah ketergantungan berlebih kepada Elon Musk sang pahlawan brilian yang selalu bisa memperbaiki masalah yang Tesla hadapi. Berbeda dari Tesla Sistem produksi Toyota dan Lean adalah tentang menempatkan "self-reinforcing improvement system". Organisasi dapat berkembang karena memiliki apa yang disebut sebagai Petani atau farmers, mereka adalah Manajer Lini yang meningkatkan setiap elemen bisnis secara terus menerus, maka dari itu Toyota memiliki prinsip membangun individu.


2 Pendekatan Inovasi

Toyota memutuskan untuk berinovasi perlahan sebagai sebuah perusahaan sebelum memutuskan untuk berinovasi pada produk. 40 tahun setelah berdiri barulah Toyota benar-benar berinovasi pada produk dengan meluncurkan mobil hybrid 'Prius', maka sulit bagi James Womack (Bapak gerakan lean dunia) melihat Tesla yang baru berdiri selama belasan tahun mampu mengembangkan sistem pengembangan produk, sistem produksi, sistem manajemen pemasok, sistem dukungan pelanggan, dan sistem manajemen umum untuk bisnisnya karena menurut Womack model produksi yang dilakukan Tesla itu susah untuk di scale up. Maka tidak heran jika Womack dan Ehrenfeld (keduanya pakar Lean) meragukan gaya kepemimpinan dan sistem produksi Tesla yang baru berumur belasan tahun dan belum teruji juga masih banyak kekurangannya. Berbeda dengan Toyota Production System yang sejarahnya dimulai sejak 80 tahun yang lalu dan telah terbukti menjadikan Toyota sebagai The Largest Car Factor in the Worlds.


Inovasi gila-gilaan dan cara kerja berbeda yang ditunjukan oleh Elon Musk adalah bagian dari dirinya yang visioner dan mau melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya tersebut. Dirinya turun kelapangan untuk ikut membangun solusi yang mau dia buat karena mungkin tidak semua orang bisa melihat visi seperti dirinya, tetapi hal tersebut yang menjadi isnpirasi bagi anggota timnya sehingga seluruh anggota dapat mencapi inovasi yang luar biasa yang sering disebut disturptive innovation.


Sustainable Innovation

Farmers adalah orang-orang yang selalu berinovasi dengan memberikan nilai tambah atau peningkatan pada produk atau proses yang sudah ada. Inovasi ini sering disebut dengan nama inovasi yang bekerlanjutan karena inovasi ini tidak mengubah atau merusak normal yang tetapi melanjutan dan memperbaharui yang sudah ada. Inovasi ini sesuai dengan filosofi Toyota way yang bergerak lebih berhati-hati.


Disturptive Innovation

Inovasi ini yang dilakukan oleh para super hero yang digambarkan oleh Tom Ehrenfeld. Para super hero ini melakukan discontinue innovation untuk mendapatkan breakthrough innovation, seperti yang dikatakan Profesor Vijay Govindrajan "Semakin Anda mengintegrasikan total quality manajemen di perusahaan, maka itu akan merusak breakthru innovation. Pola pikir yang dibutuhkan, kapabilitas yang dibutuhkan, metrik yang dibutuhkan seluruh budaya yang dibutuhkan untuk discontinuous innovation secara fundamental berbeda." Hal ini yang dilakukan oleh para distruptor seperti Steve Jobs, Jeff Bezos, Bill Gates dan Elon Musk yang mempunyai cara pikir yang berbeda dan melihat dunia dengan sisi pandang yang berbeda juga memiliki kemauan untuk merubah normal. Inovasi ini juga yang diterapkan di perusahaan-perusahaan Elon Musk termasuk Tesla.


Industri di Masa Depan

Sekarang kita sedang berada di masa industri 4.0 dimana semua serba digital dan semua produk terbaik berkaitan dengan perangkat lunak, kita juga bersiap untuk memasuki industri 5.0 dimana kecerdasn buatan dan robot bisa mengambil alih pekerjaan yang biasanya hanya dilakukan oleh manusia, disamping itu kedepan enegri yang berkelanjutan juga sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk tetap dapat berinovasi. Hampir semua hal yang untuk menghadapi industri 5.0 sudah dimiliki atau sedang di sempurnakan oleh Tesla, tetapi tidak untuk Toyota yang masih memang prinsip konvensional. Ditambah lagi Toyota sepertinya memandang Tesla hanya sebelah mata. Dalam sebua konfrensi pers di Tokyo, CEO Toyota Akio Toyoda membandingkan Tesla dan Toyota dengan analogi restoran menurut dia bisnis Tesla itu ibarat seorang chef yang berupaya menjual resep makanan saja, tidak lebih sementara Toyota sudah memiliki restoran lengkap dengan banyak menu makanan yang terbukti disukai oleh jutaan pelanggan. Hanya mempunyai satu resep masakan saja mungkin bisa menjadi kekuatan untuk Tesla karena mereka bisa lebih agile untuk mengubah resep, mendirikan tempat atau melakukan hal lainnya daripada Toyota yang mungkin banyak prosedur yang harus dijalankan jika ingin berubah. Hal meremehkan underdog sudah sering dilakukan oleh perusahaan incumbent yang biasanya akan disesali ketika sang underdog menyalip sang raja. Hal ini juga terjadi didalam kisah Intel dan AMD. Pertanyaanya apakah Toyota akan belajar dari Intel ataukah akan terjadi hal yang sama? Kita tunggu saja kapan Toyota akan berubah.