• DailyBytes

Bank Pangkas Kantor Cabang dan ATM

Bank digital begitu mengiurkan sehingga membuat banyak bank di Indonesia mulai pindah membuat bank digital mereka masing-masing dan menutup kantor cabang juga ATM mereka.

Tren digitalisasi perbankan telah mengubah perilaku nasabah. ATM tidak lagi ramai dalam antrian, karena adanya fitur bayar atau transfer lewat aplikasi, kantor cabangpun jadi sepi karena adanya fitur buka tabungan dari rumah. Ditambah adanya pandemi COVID-19 mempercepat pertumbuhan tren teserbut. Maka dari itu bank-bank besar di Indonesia bertanding membuka bank digital mereka sendiri.

Bank Digital
Foto: Bank Digital, Source: detikfinance

Bukan hanya terjadi di Indonesia, tren terjadi di selurh dunia contohya terjadi di Amerika Serikat, menurut data dari firma konsultan Bancography di Amerika Serikat (AS) yang menyebutkan bahwa bank-bank di Negara Paman Sam tersebut telah mengurangi kantor baru sejak 2013, di tengah semakin berkembangnya layanan perbankan digital (digital banking).Lalu bagaimana keadanyanya di Indonesia? Mari kita bahas satu per satu:


Bank Central Asia (BCA)

Sepanjang tahun 2020, BCA yang juga merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia (Rp 745 triliun) mampu menambah jumlah nasabah menjadi 24,48 juta, naik dari tahun sebelumnya 21,74 juta nasabah. Selain itu, pemegang kartu ATM juga meningkat dari 20,07 juta kartu menjadi 22,53 juta kartu.

Namun, meskipun kedua indikator mengalami peningkatan, jumlah kantor cabang dan kantor kas BCA mengalami penurunan dari 1.256 menjadi 1.248 unit, serta jumlah ATM yang juga mengalami penurunan dari 17.928 menjadi 17.623 unit.


Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia, mengatakan "Transaksi nasabah bank BCA yang menggunakan ATM turun dan digital naik luar biasa. Digital sudah mencapai 80% lebih, ATM hanya 13%.". Salah satu penyebab turunnya nilai transaksi yang dilakukan di ATM, karena pandemi COVID-19 yang sudah terjadi sejak tahun lalu, tambanya.


Bank Mandiri

Perubahan paling signifikan mungkin terjadi di Bank Mandiri, yang dalam satu tahun telah mengurangi 5.074 ATM dari 18.291 di tahun 2019 menjadi 13.217 di tahun 2020. Langkah ini sepertinya diambil oleh Bank Mandiri untuk lebih fokus pada pengembangan digital melalui aplikasi Livin' by Mandiri . Selain jumlah kantor cabang pembantu, kantor kas dan jenis kantor lainnya juga dipangkas.

Bank Mandiri melalui aplikasi Livin' by Mandiri membuktikan hal tersebut, dimana transaksi ATM tercatat lebih rendah. Pada kuartal I 2021, transaksi di ATM sebesar Rp 200 triliun, lebih kecil dibandingkan transaksi di aplikasi yang mencapai Rp 341 triliun. “Makanya saya bilang Mandiri Livin dikembangkan. Dan menariknya, jika melihat pengguna Mandiri Livin sejak diluncurkan Maret lalu, jumlah active user downloader sudah mencapai 7,1 juta,” jelas Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Panji Irawan.


Bank Rakyat Indonesia (BRI)

Bank milik negara terbesar di Tanah Air juga telah mengambil langkah yang sama. Berdasarkan laporan tahunan, dalam kurun waktu 2 tahun, BRI telah mereduksi 7.804 ATM. Angka ini berkurang dari jumlah tahun 2018 sebanyak 24.684 unit dan sisanya 16.880 unit pada tahun 2020.

Selain ATM, mesin EDC (Electronic Data Capture, payment receiver) BRI juga berkurang drastis dari 284.426 unit pada 2018, menjadi 198.785 unit pada 2020. Jumlah kantor cabang pembantu, kantor kas, dan unit layanan lainnya juga mengalami penurunan.


Bank Negara Indonesia (BNI)

BNI mengurangi jumlah ATM sebanyak 429 pada tahun 2020, angka ini terlihat besar, namun jika dibandingkan dengan jumlah ATM yang dimiliki BNI, angka ini tidak terlalu signifikan. Tercatat pada tahun 2019 BNI memiliki 18.659 unit ATM, jumlah ini menurun pada tahun 2020 menjadi 18.230, atau hanya turun sebesar 2,29% secara tahunan. Jaringan kantor (outlet) juga mengalami penurunan dari 2.245 menjadi 2.219 pada periode yang sama.


Direktur IT & Operasi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), Y.B Hariantono mengatakan saat ini, 98% transaksi BNI telah dilakukan melalui e-Channel, dan hanya 2% yang melalui kantor cabang. BNI mencatat hingga triwulan I 2021, di segmen konsumer terjadi peningkatan pengguna mobile banking sebesar 58% dengan nilai transaksi meningkat sebesar 33%. Sedangkan frekuensi transaksi di segmen konsumer meningkat sebesar 50%.


Bank CIMB Niaga

Selanjutnya ada bank dari negara tetangga Malaysia yang juga mengambil kelangkaan serupa, tercatat sejak akhir tahun lalu hingga akhir kuartal I 2021 atau dalam waktu 3 bulan, perseroan telah mengurangi 5 kantor cabang dalam negeri, 20 kantor cabang pembantu dalam negeri. dan juga 489 unit ATM.


Bank Tabungan Pensiunan Negara (BTPN)

Bank BPTN dikenal sebagai salah satu pelopor awal ekspansi digital melalui layanan aplikasi Jenius. Kehadiran Jenius saat itu memang berhasil merevolusi industri perbankan, berbagai kemudahan yang ditawarkan seperti pembayaran yang sebelumnya hanya dapat diakses oleh pengguna kartu kredit seperti tagihan internasional dan biaya berlangganan layanan streaming seperti Netflix dan Spotify kini telah diadopsi. dan menjadi layanan yang juga ditawarkan oleh pesaing.

Mengenai jumlah ATM dan kantor cabang, tidak ada perubahan yang signifikan di Bank BTPN. Salah satu alasannya mungkin karena bank yang sahamnya dikuasai oleh bank Jepang ini telah bermigrasi lebih awal dari bank lain.


Jadi tidak mengherankan jika dimasa depan kita akan banyak melihat bank-bank digital yang baru.