• DailyBytes

Bank Ina Perdana Rights Issue Sebesar Rp 1,24 Triliun

Bank Ina Perdana berencana rights issue sebanyak-banyaknya 282,71 juta saham dengan potensi jumlah dana sebesar Rp 1,24 triliun.


Bank Ina Perdana
Bank Ina Perdana, Source: Bank Ina Perdana

Bank Ina Perdana berencana menambah modal melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue sebanyak-banyaknya 282,71 juta lembar saham. Rencana rights issue ini sudah mendapat persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank Ina Perdana untuk tahun buku 2020.


The detail:

Berdasarkan prospektus yang diterbitkan Bank Ina, jumlah saham yang dikeluarkan dalam Penawaran Umum Terbatas (PUT) III ini adalah 4,76% dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh perseroan.


Nilai nominal rights issue adalah Rp 100 per saham dengan harga pelaksanaan berkisar antara Rp 4.200 hingga Rp 4.380 per saham. Dengan demikian, potensi dana yang terkumpul dari rights issue ini mencapai Rp 1,24 triliun. Anthoni Salim mengatakan akan menambah saham Bank Ina Perdana melalui Indolife Pensiontama, sebagai pemegang saham pengendali perusahaan.


Where the money goes?

Bank Ina Perdana melakukan rights issue untuk menambah modal agar tetap menjadi bank BUKU I sesuai ketentuan OJK. Jika dana tersebut tidak terpenuhi, maka Bank Ina harus rela turun kasta menjadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang artinya tidak bisa mendapatkan suntikan dana dari investor asing.


Bank Ina Perdana harus menaikan modal inti dari Rp 1,12 triliun menjadi Rp 2 triliun pada tahun ini. Jika modal tersebut sudah di capai, Bank Ina berencana mengembangkan layanan bank digital, seperti yang dilakukan oleh beberapa bank mini lainnya. Selain itu, Bank Ina Perdana juga berencana mengembangkan proses digitalisasi di sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang tidak lagi dilakukan secara manual, melainkan terkoneksi melalui sistem yang terintegrasi.


Key Takeaways:

Pada awal tahun depan kita akan melihat apakah 17 bank yang masuk rada OJK tetap di kelasnya atau turun menjadi BPR, juga pada tahun depan kita akan melihat perang bank digital dan penyaluran dana ke UMKM lewat bank yang sangat masif.